Sebagai sebuah peristiwa perayaan peringatan keagamaan, bentuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang marak di berbagai tempat dunia Islam sebagaimana yang terjadi saat ini, belum pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW hidup. Bahkan ketika Beliau sudah wafat, para sahabat r.a.pun belum ada yang melakukannya. Demikian juga pada masa tabi`in dan tabi`it tabi`in.
Dalam tulisan Ulin Niam Masruri yang berjudul, Perayaan Maulid Nabi dalam Pandangan KH. Hasyim Asy'ari (2018) disebutkan bahwa peringatan Maulid sebagai bagian dari tradisi keagamaan secara historis baru terjadi pada masa dinasti Bani Fatimiah, tepatnya pada masa Raja al-Muiz li Dinillah (341-365 H). Beliau adalah orang yang pertama kali menyelenggarakan perayaan kelahiran Nabi yang tercatat dalam sejarah.
Kemudian perayaan peringatan maulid secara besar-besaran untuk pertama kalinya dilakukan oleh Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kaukabri ibn Zainuddin Ali bin Baktakin (549-630 H). Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Suyuthi, tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid ini.
Meski di zaman Nabi tidak pernah dilakukan, namun tidak lantas kegiatan perayaan peringatan Maulid Nabi SAW itu bisa dianggap sebagai bid’ah, sebab perayaan peringatan Maulid Nabi tidak ada kaitannya dengan ibadah ritual. Perayaan ini lebih terkait dengan masalah teknis muamalah. Banyak dalil yang menegaskan dasar diperbolehkannya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Selagi dalam masalah muamalah, prinsipnya apapun boleh dilakukan selama tidak melanggar hal-hal yang memang secara tegas dilarang.
Di antara dalil yang bisa jadikan sebagai rujukan diperbolehkannya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW adalah:
1. Peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca shalawat, Allah SWT. berfirman dalam QS. Al-Ahzab: 56:
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
Artinya:
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya".
2. Rasulullah SAW. sendiri mensyukuri atas kelahirannya dan penerimaan wahyunya dengan merayakannya dengan cara berpuasa setiap hari kelahirannya, yaitu setiap hari Senin.
عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ” : فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم
Artinya:
“Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.” (H.R. Muslim)
Kehidupan Nabi Muhammad SAW sendiri juga menjadi contoh yang baik (uswatun hasanah). Nabi memiliki sifat-sifat keutamaan yang di-nash dalam Alquran Surat Al Ahzab 21 yang berbunyi sebagai berikut.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا“
Artinya:
"Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
Termasuk dalam kehidupan Beliau Rasulullah SAW. adalah sikap kesabaran yang begitu kuat. Dikisahkan bahwa pada peristiwa di Thaif merupakan salah satu ujian kesabaran terdahsyat dalam hidup Nabi Muhammad SAW. Saat itu, beliau ditolak, dihina, dan dilempari batu oleh penduduk Thaif hingga terluka, namun beliau justru menolak membalas dan memilih mendoakan kebaikan bagi mereka. Kisah kesabaran luar biasa ini diabadikan dalam Hadits Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim.
Sebagaimana umat Islam jaman kini, maka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW selain merupakan sebuah perilaku yang tidak bertentangan dengan syariat karena tidak menyangkut ritual melainkan sebatas muamalah, juga malah justru dapat menarik pelajaran dari contoh kehidupan Nabi Muhammad SAW sendiri.
Penderitaan yang berbalas dengan doa kepada pihak yang menimbulkan derita merupakan amalan yang mulia yang telah dicontohkan oleh Nabi dan layak dijadikan teladan bagi kita umatnya. Potret kehidupan Nabi Muhammad SAW yang demikian inilah yang layak dicontoh oleh umat Islam masa kini dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sosok yang penuh sabar dalam menghadapi situasi sulit dan bahkan penderitaan sekalipun.
