Pemanfaatan berbagai platform digital seperti media sosial untuk kebutuhan sehari-hari semakin tidak terhindarkan. Iming-iming ketenaran yang berujung pada keuntungan yang bersifat material semakin tampak nyata. Tidak jarang untuk mencapai ketenaran itu, semua aksi, capaian, kepemilikan dan perilaku muncul tayang di media sosial.
Demikian pula tak jarang merambah ke bidang keagamaan. Pamer (flexing) dalam bersedekah merupakan suatu fenomena yang cukup pesat perkembangannya di media sosial. Walaupun diniatkan untuk mencari pahala, namun bukan tidak mungkin terjebak pada perbuatan riya.
Baca juga: Sosok Bilal Menegaskan Kesetaraan Umat Manusia, dan Memberi Kakaguman pada Abu Bakar serta Umar
Riya adalah memamerkan amalan kebaikan dengan tujuan ingin mendapatkan pujian dari manusia, bukan karena Allah. Riya merupakan penyakit hati yang sering mempengaruhi orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Riya berkaitan dengan mencari kedudukan tinggi dan penghormatan manusia dengan memamerkan amalan-amalannya.
Riya menunjuk pada ibadah yang tidak sepenuhnya dilandasi ketulusan kepada Allah SWT., melainkan disertai dorongan memperoleh perhatian dan pujian manusia, serta menempatkannya sebagai syirik kecil (syirik asghar) sekaligus syirik tersembunyi (syirik khafī) yang dapat membatalkan nilai amal.
Keterangan tersebut berdasarkan Surah Al-Kahfi ayat 110
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا
Artinya:
"Katakanlah (Nabi Muhammad), 'sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.' Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya".
Dalam Alquran, flexing (riya) juga memiliki beberapa unsur lain, yaitu : al mannu (menyebut-nyebut sedekahnya), al adza (menyakiti perasaan penerima) dan riyaa annasi (memperlihatkan kepada orang lain dengan tujuan mendapat pujian).
Unsur-unsur seperti itulah yang kemudian bisa menghilangkan pahala sedekah, bahkan bersih tak bersisa sedikitpun seperti halnya batu licin yang di guyur hujan deras yang telah tertera dalam Q.S Al Baqarah ayat 264.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًاۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْاۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ ٢٦٤
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat sehingga tinggallah (batu) itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir."
Berbeda dengan riya, syiar adalah perbuatan baik yang ditampakkan dengan niat yang tulus untuk mengagungkan agama Allah, memberikan contoh, serta memotivasi orang lain agar ikut berbuat kebaikan. Dalam QS. Al-Baqarah Ayat 274 Allah berfirman sebagai berikut:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُم بِٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ
Artinya:
"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya..."
Oleh karena itu, perbedaan riya' dan syiar sangat tipis, dan perbedaan itu terletak pada niat dan motivasi di baliknya.
Bidang Peribadatan dan Taklim
