Kamis, 13 Agustus 2026

Sosok Bilal Menegaskan Kesetaraan Umat Manusia, dan Memberi Kekaguman pada Abu Bakar serta Umar


Sebelum Islam datang, struktur sosial masyarakat Arab sangat bertumpu pada garis keturunan, suku, dan warna kulit. Bilal bin Rabah adalah seorang bekas budak berkulit hitam asal Ethiopia (Habsyi). Setelah datangnya Islam, seorang Bilal yang bekas budak pun bisa menjadi sangat dekat dengan Rasulullah SAW, utusan Allah SWT. Rasulullah SAW sendiri yang menyuruh Bilal untuk mengumandangkan azan, walaupun banyak sahabat lain yang juga sering mengumandangkan azan. 


Karena saking dekatnya Bilal dengan Nabi Muhamamd SAW, maka tidak heran jika sahabat lain, seperti Umar Bin Khattab pun menaruh hormat kepada Bilal. Ucapan Umar yang menyebut Bilal sebagai "sayyiduna" (pemimpin kami/tuan kami) dalam hadist di bawah ini adalah bukti nyata bahwa Islam meruntuhkan sekat rasial dan menunjukkan rasa hormat Umar Bin Khatab kepada Bilal. Dengan kata lain, kemuliaan seseorang dalam Islam tidak lagi dinilai dari kasta sosial atau warna kulit, melainkan dari ketakwaan dan jasanya terhadap agama


حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، أَخْبَرَنَا جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ كَانَ عُمَرُ يَقُولُ أَبُو بَكْرٍ سَيِّدُنَا، وَأَعْتَقَ سَيِّدَنَا‏.‏ يَعْنِي بِلاَلاً‏.

Artinya:
"Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim, ia berkata: telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin Abi Salamah, dari Muhammad bin al-Munkadir, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Jabir bin 'Abdullah radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:"Umar (bin Khattab) biasa berkata: 'Abu Bakar adalah pemimpin kami, dan dia telah memerdekakan pemimpin kami,' yang ia maksud adalah Bilal". (Kitab Hadist Sahih Bukhori No. 3754).

Dalam kitab Fathul Bari, yang menjelaskan (syarh) Shahih al-Bukhari dan dikenal paling otoritatif, Ibnu Hajar Al-Asqalani, menyatakan hadist ini sebagai bentuk pengakuan atas keutamaan terhadap sahabat Bilal. Pujian Umar bukanlah sekadar basa-basi politik, melainkan pengakuan tulus atas tingginya derajat Bilal di dalam Islam. Ibnu Hajar menyatakan juga hadits ini sebagai dalil bahwa menyebut orang yang memiliki keutamaan takwa dan jasa besar dengan sebutan sayyid (tuan/pemimpin) adalah hal yang diperbolehkan dalam Islam, selama tidak menimbulkan kesombongan pada orang yang dipuji.

Selanjutnya, pada hadist nomor 3755 dinyatakan sebagai berikut:


حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ قَيْسٍ، أَنَّ بِلاَلاً، قَالَ لأَبِي بَكْرٍ إِنْ كُنْتَ إِنَّمَا اشْتَرَيْتَنِي لِنَفْسِكَ فَأَمْسِكْنِي، وَإِنْ كُنْتَ إِنَّمَا اشْتَرَيْتَنِي لِلَّهِ فَدَعْنِي وَعَمَلَ اللَّهِ‏.

"Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin 'Ubeid, Isma'il telah menceritakan kepada kami dari Qais dari Bilal bahwa Bilal berkata kepada Abu Bakar: "Jika kamu membeli aku untuk dirimu (aku milikmu), maka tahanlah aku (pekerjakan). Namun, jika kamu membeliku karena Allah, maka biarkanlah aku (bebas) untuk beribadah dan beramal karena Allah." (Kitab Hadist Sahih Bukhori No. 3755).

Ibnu Hajar dalam kitabnya Fatkhul Bari selanjutnya menguraikan konteks historis dan latar belakang psikologis, yang terkandung di balik ucapan tegas Bilal kepada Abu Bakar alam hadist nomor 3755 tersebut. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa dialog ini terjadi setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, tepatnya di masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq. 

Setelah Nabi ﷺ wafat, Bilal sangat terpukul. Bilal merasakan kesedihan mendalam dan merasa tidak sanggup lagi mengumandangkan azan di Madinah. Setiap kali sampai pada menyebut nama Rasulullah ﷺ dalam lafadz azan, Bilal selalu menangis tersedu-sedu. Bilal tidak sanggup lagi menahan kesedihan hatinya setelah ditinggal Rasulullah. Kemudian Bilal memutuskan bahwa ruang pengabdian terbaiknya setelah kepergian Nabi ﷺ adalah dengan pergi berjihad ke wilayah Syam (Syria), bukan lagi tinggal menetap di Madinah. 

Saat pertama kali Bilal mengutarakan keinginannya untuk meninggalkan Madinah, Abu Bakar merasa berat hati. Sebagai khalifah yang baru memimpin pasca-wafatnya Rasulullah ﷺ, Abu Bakar sangat menginginkan Bilal tetap tinggal di Madinah untuk menemani perjuangannya serta terus mengumandangkan azan bagi kaum muslimin. Namun sahabat Abu Bakar menghormati keputusan Bilal untuk berhenti mengumandangkan azan. Di sini, tampak nyata sahabat Abu Bakar membuktikan bahwa pembebasan budak yang dilakukannya di masa lalu murni lillahi ta'ala tanpa mengharapkan balas budi berupa loyalitas pribadi atau pengekangan hak kepada budak yang pernah dibebaskannya, yakni Bilal. 

Ibnu Hajar menggarisbawahi pilihan kata yang digunakan oleh Bilal: "Jika engkau membeliku karena Allah..." Ucapan ini bukan bentuk pembangkangan Bilal kepada Abu Bakar, melainkan sebuah pengingat atas ketulusan niat awal (konteks tawakkal dan ikhlas).  

Seperti banyak diriwayatkan, ketika di Makkah, Abu Bakar membeli Bilal dan membebaskannya dari dari Umayyah bin Khalaf adalah murni demi menyelamatkannya dari siksaan kafir Quraisy karena Bilal mempertahankan iman. Bilal ingin menegaskan bahwa kebebasan yang diberikan Abu Bakar kepadanya adalah kebebasan mutlak demi mengharap ridha Allah, sehingga ia berhak memilih jalan hidupnya sendiri untuk pergi berjihad. 

Sikap Abu Bakar ini juga menunjukkan keluhuran akhlak Abu Bakar ash-Shiddiq, bahwa setelah mendengar perkataan Bilal tersebut, Abu Bakar tidak marah ataupun merasa diungkit jasanya. Sebaliknya, dengan penuh kelembutan, Abu Bakar mengabulkan permintaan Bilal dan membiarkannya pergi ke Syam untuk berjihad bersama pasukan Islam. Abu Bakar tidak mengharapkan timbal balik dari Bilal, dan justru mengijinkan Bilal untuk meninggalkan Madinah. 


Setelah perang selesai di Syam, Bilal memilih untuk menjalani hidup dengan tenang, sembari menghabiskan masa tuanya. Beliau menetap dan tinggal di Kota Homs (Syria), serta membangun kehidupan baru di sana hingga masa kekhalifahan Umar bin Khattab. 

Setelah pindah dari Madinah, tercatat hanya dua kali Bilal mengumandangkan azan. Pertama saat khalifah Umar bin Khattab mengunjungi Syam (Jabiyah) dan meminta Bilal untuk mengobati kerinduan masa-masa bersama Nabi ﷺ. Ketika Bilal mengumandangkannya, seluruh sahabat menangis tersedu-sedu karena teringat zaman hidup bersama Nabi.

Azan kedua saat ziarah ke Madinah. Atas permintaan kedua cucu Nabi (Hasan dan Husain), Bilal naik ke menara dan mengumandangkan azan. Azan itu membuat seluruh penduduk Madinah keluar rumah sambil menangis histeris karena kerinduan yang memuncak pada Rasulullah ﷺ.

Bilal bin Rabah wafat di Damaskus, sekitar tahun 20 hijriyah.

Bidang Peribadatan dan Taklim