Kegiatan Tim Sedekah Berkah

Kamis, 02 Juli 2026

Gejala FOMO dan Korelasinya dengan QS. Al-Ma'arij: 19

Berkembangnya dunia digital yang turut diramaikan tumbuhnya berbagai platform media sosial membuat pengguna sekaligus pembaca media sosial belakangan ini dilanda persoalan baru. Mereka takut akan ketinggalan (Fear of Missing Out -FOMO). Padahal, rasa takut ketinggalan  akan sangat berpengaruh bagi kesehatan mental.
Semakin tinggi orang merasakan ketinggalan serta kekurangan, semakin tinggi peluang untuk terjadinya depresi, kecemasan, dan stres. Individu dengan tingkat FOMO yang tinggi lebih mungkin menderita jiwanya dan mengalami gangguan tidur. Akibatnya, mereka tidak puas dengan apa yang diterimanya dari Allah SWT. 

Di media sosial, orang selalu ingin mendapatkan kabar terbaru, atau update info. Mereka tak ingin terlewat satu perkembangan postingan sekali pun. Persepsinya sangat kuat untuk tidak mau ketinggalan, yang tanpa disadarinya, justru memicu timbulnya kecemasan dan perilaku kompulsif seperti memeriksa dan menyegarkan situs media sosial terus menerus. 

Seseorang yang terjebak pada gejala FOMO akan terus merasa ketakutan yang meluas, bahwa orang lain mungkin memiliki pengalaman lebih berharga ketimbang dirinya. Orang lain lebih beruntung daripada dirinya. Timbul kuat rasa takut akan penyesalan dan dapat menyebabkan kekhawatiran tentang kehilangan interaksi sosial, pengalaman baru, peristiwa yang tak terlupakan, atau peluang yang menguntungkan.

Sebenarnya, memang sudah ditentukan (nash) dalam Alquran, bahwa manusia akan selalu merasa kekurangan, dan selalu berkeluh kesah sebagaimana tertulis dalam QS. Al Ma'arij ayat 19 sebagai berikut:

 اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ ۝١٩

innal-insâna khuliqa halû‘â

Artinya:

"Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah lagi kikir" (QS. Al-Ma'arij: 19).

Dalam tafsir al-Munir, Wahbah az-Zuhaili  menegaskan bahwa sifat gelisah tersebut merupakan karakter dasar manusia. Kegelisahan muncul karena manusia memiliki rasa takut terhadap masa depan serta kekhawatiran kehilangan kenikmatan yang dimilikinya. Oleh karena itu, Al-Qur’an memberikan bimbingan agar manusia memperkuat iman, meningkatkan kesabaran, serta menumbuhkan sikap tawakal kepada Allah. Sifat gelisah tersebut dapat diarahkan melalui pembinaan spiritual.

Di sini, tanpa disadari, sebenarnya permainan FOMO tersandarkan pada hati dan jiwa seseorang. Bagi seorang Muslim, hati merupakan dasar dari diri dan bilamana hati dikelola dengan baik, maka rasa kehilangan pun dapat dikelola oleh hati, sehingga tidak merugikan pada diri seseorang akibat ketakutan akan kehilangan. 

Betapa pentingnya dalam menjaga hati, Rasulullah SAW menekankan agar memperhatikan hati secara sungguh-sungguh. 

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Artinya: 

 “Dan sesungguhnya di dalam satu jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah  seluruh anggota dan jika rusak maka rusaklah seluruh anggota. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhori)

Seorang Muslim dalam menjalani kehidupannya pastilah tidak akan sepi dari berbagai ujian. Rasa takut dan kekurangan merupakan kondisi yang akan selalu dihadapi setiap Muslim dan itu merupakan ujian yang harus dilewati. 

Firman Allah SWT:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-jū‘i wa naqaṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt(i), wa basysyiriṣ-ṣābirīn(a).

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar (QS. Al-Baqoroh: 155)

Surat al Baqarah ayat 155, dan terusannya hingga ayat 157, menyuguhkan bahasan secara spesifik tentang cobaan, musibah dan cara menghadapinya. Ayat ini mengajak setiap Muslim untuk selalu sadar  di saat-saat berada dalam kesulitan, dan masa-masa berat dalam menjalani kehidupan. Setiap umat Islam diajak untuk sampai pada penyerahan diri secara total, dengan mengenal kalimah Istirja’ berupa: Innalillahiwainnailaihirojiun. Semuanya akan kembali pada Sang Khalik. 

Dalam tafsir Jalalain, Al-Baqarah ayat 155 ini ditafsirkan bahwa Allah akan senantiasa memberikan cobaan kepada muslimin berupa sedikit rasa takut terhadap musuh, kelaparan atau paceklik, berkurangnya/rusaknya harta, ancaman jiwa seperti pembunuhan, kematian dan sakit dan cobaan terhadap buah-buahan (bahan makanan). Sedikit cobaan yang diberikan itu untuk mengetahui apakah umat Islam termasuk shobirin (orang yang bersabar) atau tidak. Dan bagi yang mampu bersabar atas balak akan mendapatkan kabar gembira; surga.

Dengan demikian, maka dalam rangka menyikapi FOMO mestilah dikembalikan pada upaya untuk menjaga dan menyehatkan hati dan untuk selalu berserah diri pada-Nya. Rasa takut akan ketinggalan merupakan hal yang lumrah bagi manusia. Bahkan, hal demikian ini termasuk ujian. Namun, bagaimana rasa takut ketinggalan itu harusnya dapat dikendalikan oleh hati yang disinari penghambaan dan kepasrahan kepada Allah SWT. Selanjutnya, penting juga untuk menggunakan media sosial sewajarnya. 

Bidang Peribadatan dan Taklim DKM Ar Rayyan