
Manusia menjalani hidup akan tidak dapat lepas dari ketentuan waktu serta usia yang mengiringinya. Walaupun diberikan kebebasan, namun manusia terikat dengan siklus hidupnya. Seorang Muslim semestinya menyadari keterikatan dirinya dengan waktu dan juga siklus kehidupan secara universal
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةًۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ
allâhulladzî khalaqakum min dla‘fin tsumma ja‘ala mim ba‘di dla‘fing quwwatan tsumma ja‘ala mim ba‘di quwwatin dla‘faw wa syaibah, yakhluqu mâ yasyâ', wa huwal-‘alîmul-qadîr
Artinya: “Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa,” (Qs: Ar-Rum 54).
Manusia terlahir dalam kondisi lemah. Belum mampu mempertahankan diri dan amat bergantung dari pertolongan orang-orang terdekatnya. Jasmani dan rohaninya dalam kondisi lemah. Ia terus tumbuh bersama lingkungannya. Lama-lama ia akan berubah menjadi lebih kuat. Ada yang mendapatkan pendidikan yang memadai, namun juga ada yang pendidikan yang dilalui ala kadarnya.
Sampailah dia menjadi individu yang memiliki kekuatan dan kemampuan penuh untuk menjaga dirinya. Ia mampu meraih keinginannya. Bahkan ia memiliki kekuatan (power) di antara sesamanya. Namun terkadang kekuatan dan kekuasaan itu membuatnya lupa diri.
Sampailah akhirnya usia yang mulai menua dan kekuatan serta kekuasaan memudar. Hanya penyesalan yang tersisa karena di masa memiliki kekuatan, dirinya malah jauh dari nilai-nilai kebaikan. Lupa, bahwa usia tua merupakan cerminan masa mudanya.
Rasulullah SAW mengingatkan pada usia muda dan sehat
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Artinya:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim, dalam kitabnya Al-Mustadrak 'alas Shahihain)
Maka jelaslah bahwa masa dan waktu akan menentukan bagi kehidupan seorang Muslim. Waktu tidak dapat ditawar-tawar dan terus akan berjalan seperti jarum jam di dinding. Begitu pula dengan fase serta siklus kehidupan manusia.
Tatkala saat memiliki kekuatan, usia muda, kekuasaan, sehat, kaya, dan masa luang, maka perlulah diiringi kesadaran, bahwa semua itu hanya sementara. Semua urusan duniawi akan bertemu waktu dan siklusnya. Sesuai dengan siklusnya; manusia berawal lemah, berakhir juga lemah.
Wallahu a'lam bis shawab
Bidang Peribadatan dan Taklim